Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Rasa Yang Tak Sempat Menjadi Kata

 Rasa Yang Tak Sempat Menjadi Kata


“Pokoknya aku nebeng Mas Bayu!” rengek Kenes dan terus mengikuti langkahku.

 

Aku menarik nafas panjang. Menghentikan langkah gadis yang masih seumuran adikku. Aku menoleh kearahnya. Ada sedikit kesal menjalari perasaanku.

 

“Bareng aja Narend, aku udah ada janji! Awas ya kalo ngeyel!” ancamku lalu memakai helmku dan menuju garasi. Akupun lalu melajukan motorku dan mengabaikan gadis yang mulai menunjukkan wajah kecewanya. Tapi, aku tak peduli.

 


Aku menatap nanar kea rah luar sana. Dari jendela lantai 15, kulihat kendaraan berlalu lalang. Sudah waktunya pulang kerja, kendaraan sungguh padat. Sebenarnya pekerjaanku sudah kelar, tapi entah mengapa kakiku terasa berat untuk melangkah pulang.

 

Sejak sedari siang, pikiranku kacau. Entah mengapa kenangan 17 tahun yang lalu kembali menghantui pikirku. Kegilaan cewek yang selalu mengusik ketenanganku, seolah menjadi rindu yang mustahil terobati.

 

Kini, aku sudah tak sendiri lagi. Aku adalah seorang suami sekaligus seorang ayah dari dua putri yang amat cantik dan manis. Tapi entah mengapa, aku sungguh merindukan kegilaan gadis di masa lalu itu.

 

Semenjak aku lulus SMA, aku meninggalkan Yogyakarta. Aku melanjutkan kuliah di Jakarta dan semenjak saat itu aku jarang ke Yogyakarta karena di sana bukan rumahku—melainkan rumah pamanku. Dan gadis itu tetangga pamanku sekaligus teman Narend sedari kecil. Yah, Narendra Wibowo—adik sepupuku.

 

Tiga tahun sekolah di Jogja, gadis itu tak pernah lelah menggangguku. Dia selal mengusikku dengan kegilaannya. Dia selalu rewel dan ingin berangkat maupun pulang sekolah bersamaku. Tapi aku selalu menolaknya.

 

Hingga suatu hari—untuk yang pertama dan terakhir kalinya—kala itu aku kelas XII dan ada tambahan pelajaran, sementara Kenes sepertinya pulang ekskul. Hujan begitu deras. Tak ada angkutan umum. Sementara hari kian sore. Hatiku merasa khawatir jika aku meninggalkannya. Terpaksa, akupun mengajaknya pulang bersama. Tapi sialnya, hal itu diketahui Rahmi—kekasihku. Keesokan harinya, Rahmi memutuskanku. Dan semenjak hari itu, aku semakin membenci Kenes.

 

Meskipun dia tahu kalau aku sangat membencinya, tapi Kenes tak pernah henti mengejarku. Dia selalu menjadi pendukung utamaku saat aku main basket. Dia selalu memberikanku kado di hari special seperti di hari ulang tahunku, hari valentine, bahkan di hari kelulusanku hanyalah dia yang memberikan kado spesial.

 

Kalian tahu? Dinding pertahananku sempat runtuh. Baru saat itu aku dicintai dengan begitu hebatnya. Tapi, kukikis rasa itu. Aku yang awalnya berniat melanjutkan kuliahdi Jogja, akupun berganti Haluan kembali ke Jakarta. Ternyata, Narend—adik sepupuku—mencintai sahabat kecilnya itu.

 

Narend tahu kalau Kenes mencintaiku. Tapi dia abaikan. Narend seolah menjadi payung dalam setiap badai yang menerjang gadis gila itu. Dan aku tak mungkin meruntuhkan perasaannya karena egoku.

 

“Kriiiingggg!” suara telpon mengagetkan lamunanku.

 

“Halo?” tanyaku ke Seberang.

 

“Papa! Papa kapan pulang?” tanya suara mungil itu dari Seberang.

 

“Bentar lagi Papa pulang, Sayang. Tunggu Papa ya, Sayang.”

 

“Oke Papa! Nenes dan Adek Ndis nungguin Papa pulang. Dada Papa, ati-ati di jalan.”  Gadis mungil itu kemudian menutup telponnya. Tanpa piker panjang, aku langsung berkemas dan pulang.

 

Sepanjang perjalanan pulang, entah mengapa pikirku terus saja terbayang masa lalu. Hatiku terus bertanya, sedang apa gadis itu? Di mana dia sekarang? Apakah dia sudah menikah? Dan kegilaan apa yang merasukiku, tiba-tiba ada rasa inginku tanyakan tentangnya pada Narend. Argh, apakah aku sudah gila?

 


“Papa, besok antar Nenes ya? Nenes pengen diantar Papa ke sekolah,” rengek putri pertamaku saat aku tengah menemaninya bermain.

 

“Tapi kan Papa harus kerja, Sayang. Mama aja ya yang antar,” bujuk isteriku.

 

“Nggak mau, Nenes juga ingin diantar sama Papa!” Kalau sudah seperti ini, keinginannya tak bisa digugat. Sama seperti Kenes. Keras kepala.

 

“Iya sayang, besok Papa yang antar ya? Sekarang mainannya udahan dulu, Nenes cuci kaki, gosok gigi, lalu bobok ya,” rayuku pada bocah berusia 7 itu. Diapun menuruti perkataanku.

 

Sementara Ratna—isteriku—mendekat ke arahku.

 

“Gendhis sudah tidur?” tanyaku pada Ratna.

 

“Sudah dari tadi Mas,” jawabnya. “Oh ya Mas, ternyata anaknya Pak Ibra satu sekolah dengan Kenes hlo. Tadi aku sempat ketemu sewaktu Beliau mengantarkan anaknya bersama isterinya,” lanjut Ratna.

 

“Isterinya? Memangnya ada di Jakarta? Kata teman-teman, isterinya itu di luar kota,” tanyaku heran.

 

“Mungkin sudah kembali, isterinya cantik kayak model.”

 

Aku hanya manggut-manggut. 5 tahun menjadi bawahannya Pak Ibra, aku sama sekali tak pernah ketemu dengan isterinya. Beliau terlalu tertutup mengenai keluarganya. Dari desas-desus yang kudengar, isterinya berada di luar kota. Dan mereka hanya bertemu setiap weekend. Konon, katanya isterinya juga mempunyai bisnis sendiri di luar kota. Tapi di kota mana, entahlah. Aku kurang tertarik untuk mengetahuinya.

 

Aku menurukan Nenes dari mobilku. Lalu mengantarkannya masuk sekolah. Dan entah ini halusinasiku atau memang kenyataannya, aku melihat seseorang yang akhir-akhir ini mengusik tenangku. Perempuan berperawakan tinggi dan masih langsing seperti dulu, rambut panjangnya masih lurus seperti dulu, kulitnya yang dulu sedikit gelap kini lebih cerah dan bersinar. Aku yakin, aku tak salah lihat.

 

Aku terpaku memandanginya. Pun dengan dirinya, sepertinya sama-sama terkejutnya seperti diriku. Tapi, aku lebih terkejut lagi ketika dai belakangnya datang seorang lelaki yang tak asing dalam pandanganku.

 

“Sayang, Leon sudah masuk. Yuk, ke kantorku atau kamu mau pulang?” tanya lelaki itu lalu memandangku. “Hlo Bay, anakmu sekolah di sini?” lanjutnya bertanya lalu berjalan menuju ke arahku.

 

Aku tersenyum. Meskipun aku terkejut.

 

“Oh ya, sini Sayang, kenalkan ini Bayu dan itu isteriku Bay, namanya Ghaida,” lanjut lelaki yang kupanggil Pak Ibra. Sementara perempuan itu berjalan mendekat ke arah kami. Aku dan dia saling berjabat tangan dan menyebutkan nama kami. Ku tetaplah dipanggil Bayu, sementara dia mengenalkan namanya dengan nama Ghaida. Kenes Surinala Ghaida—si jantung hati yang menawan dan baik hati.

 

“Oh ya Bay, sekarang isteri dan anakku pindah ke Jakarta, bisnisnya yang ada di Jogja biar di handle sama Rifky. Aku sengaja memindahkannya ke Jogja. Dan nggak nyangka ya Bay, anak kita juga satu sekolah,” ucap Pak Ibra panjang lebar.

 

Sejenak kami ngobrol meskipun aku masih terjebak dalam keterkejutan. Hingga akhirnya Pak Ibra mengakhiri percakapan ini lalu mengajak isterinya kembali. Aku masih mematung. Ada lega tapi juga kecewa bercampur penyesalan. Perempuan yang 17 tahun lalu kuacuhkan, kini diratukan oleh atasanku sendiri. Perempuan yang dulu kupandang sebelahmata, kini harus kuhormati kehadirannya. Perempuan yang dulu kuanggap gila dan menyebalkan, kini dia telah menjelma menjadi perempuan anggun dan berkelas.

 

Ada lega karena dia hidup dengan baik-baik saja. Tapi ada kecewa, setidaknya dia sempat menghuni dalam hatiku. Bahkan mengganggu pikirku, hingga saat ini. Dan jujur, dia adalah perempuan yang tak pernah bisa kulupakan hingga nama anak pertamaku kuberi nama seperti dia, Kenes.

CINTA NON KOMERSIL

CINTA NON KOMERSIL
By : Witri Prasetyo Aji

            “Vi, tahu nggak, hari ini Edo ngajak gue nonton. Pokoknya, hari ini tuh gue seennengg banget,” cerita Clara kepadaku dengan wajah berseri-seri. Senyuman hampir tak pernah terlepas dari bibir manisnya itu.
            Aku hanya mampu tersenyum getir melihat kebahagiaan Clara dan tetap setia mendengarkan penuturannya yang sebenarnya membuatku merasa iri. Bagaimana tidak? Jadi Clara tuh beruntung banget, sudah anaknya cantik, manis, pinter, anak orang kaya pula. Selain itu, Clara juga punya pacar Edo yang cakep dan kaya. Sering nonton bareng, jalan-jalan, hang out, dan sering diberi kejutan-kejutan pula. Beda banget dengan aku. Walaupun aku tak kalah cantiknya dengan Clara, tapi aku tak seberuntung Clara yang mendapatkan pangeran cakep nan kaya macam si Edo.
            Pacarku bernama Ryan, memang tidak sekaya Edo, namun Ryan cukup memberikanku perhatian lebih dari yang Edo berikan ke Clara. Ryan itu  anaknya biasa saja, dari keluarga sederhana pula, pacaran kami pun tak ada romantis-romantisnya. Ryan tidak pernah mengajakku nonton, makan bareng apalagi membelikanku kejutan-kejutan kecil seperti Edo. Ya, aku bisa mengerti itu. Buat bayar SPP saja sering ngadat, apalagi buat membelikanku kejutan-kejutan berupa barang.
            Pernah aku minta sesuatu ke Ryan, namun dia malah ngatain aku cewek matre dan membanding-bandingkan aku dengan Rena—mantan pacarnya. Dan setelah itu, aku sama sekali tak berani meminta apapun pada Ryan. Bahkan, saat jalan bareng pun aku juga tak pernah meminta dibeliin makanan olehnya walaupun saat itu aku sedang lapar. Aku cukup trauma dibilang cewek matre oleh pacarku sendiri. Padahal waktu itu aku hanya minta Ryan untuk membelikanku sebuah novel.
            “Woi, kok bengong sih?” gertak Clara mengagetkanku. Lamunanku membuyar. Aku pun kembali terdampar dalam dunia nyata.
            “Eh, oh, eh,” jawabku gelagapan. Aku jadi salah tingkah sendiri.
            “Lo kenapa sih, Vi? Akhir-akhir ini gue perhatiin lo tuh sering banget ngelamun?” tanya Clara padaku sembari menyeruput jus alpukatnya.
Aku juga menyeruput jus apelku yang sedari tadi aku anggurin lantaran melamun tentang kepelitan Ryan padaku.
“Nggak apa-apa kok, Ra. Mungkin gue sedikit kecapekan aja,” bohongku.
Walaupun Clara sahabat karibku, aku tak mungkin bercerita padanya tentang gaya pacaranku dengan Ryan. Aku nggak mau kalau pacarku akan dikatain cowok nggak modal. Walau bagaimanapun juga, Ryan itu adalah cowok yang aku cintai. Mana mungkin hatiku bisa menerima seandainya ada yang menghinanya. Yah, walaupun pada kenyataannya Ryan memang sedikit keterlaluan, dia begitu berbeda dengan yang lainnya. Yang jelas, Ryan terlalu perhitungan perihal pengeluaran.
“Oh, ya Vi, gimana kalo ntar kita nonton bareng? Double date gitu?” usul Clara yang sebenarnya lumayan menarik untuk dijalani.
Aku mengerutkan keningku. Rasanya itu mustahil. Ryan mana mau menghambur-hamburkan uangnya hanya buat nonton. Bisa-bisa dia malah menceramahiku dan mungkin akan bilang... aku matre.
“Kayaknya gue nggak bisa deh, Ra. Tadi Mama nyuruh gue cepet-cepet pulang kalo nggak ada kuliah,” alasanku yang berusaha menyelamatkan diri dari ajakan Clara.
Clara menampakkan wajah cemberutnya. Bibirnya manyun. Sepertinya kecewa, begitu juga dengan aku. Tapi, ya sudahlah. Aku tak berani mengambil resiko, aku sedang malas berdebat dengan Ryan.
“Yah, sayang sekali.padahal hari ini tuh ada film horor terbaru, gue yakin lo pasti suka,” celoteh Clara yang semakin membuatku merasa iri.
Aku hanya mampu tersenyum getir, menyembunyikan kekecewaanku.
“Lain kali kan masih ada waktu, Ra,” ucapku menghibur.
Clara hanya manggut-manggut dan kembali menyeruput jus alpukatnya.
*****
            Malam minggu. Aku selalu menghabiskan malam mingguku di rumah. Walaupun Ryan kerap sekali datang ngapel, namun sekalipun Ryan belum pernah mengajakku malam mingguan di luar. Katanya, malam minggu di rumah lebih aman, malah bisa lebih dekat dengan kelurgaku. Dan juga, udara malam itu nggak baik buat kesehatan, dan bla bla bla. Ryan selalu mempunyai sejuta aalsan untuk tidak mengajakku malam minggu di luar.
            “Kog Cuma diem aja sih, Vi?” tanya Ryan kepadaku.
            “Nggak apa-apa kog,” jawabku datar. Sebenarnya aku ingin sekali mengungkapkan keinginanku, aku ingin pacaran yang wajar, seperti teman-temanku yang lainnya. Setidaknya, ada jalan-jalan, dinner, lunch, nonton, kado-kado kecil atau apalah. Sementara aku dan Ryan? Sama sekali nothing special, monoton dan membosankan. Pacaran selalu di rumah dan ditemani buku-buku kuliah serta rancangan masa depan yang menurutku belum waktunya untuk aku pikirkan.
            “Vi, kalo ada masalah tuh cerita, jangan dipendem sendiri,” ujarnya menasehatiku.
            Aku menyunggingkan senyum keterpaksaan. Mudah sekali Ryan berbicara seperti itu. Apa dia tak menyadari bagaimana dirinya selama ini menjadi pacarku? Kenapa Ryan sama sekali tak memikirkan tentang perasaan aku, hati aku? Kenapa dia sama sekali tidak peka, sih?
            Aku hanya terdiam. Rasanya masih malas untuk berkeluh kesah pada Ryan. Aku sudah bosan mendengarkan ceramah-ceramah Ryan yang terlalu berlebihan itu. Lebay.
            “Vi, aku ini pacar kamu, kenapa kamu nggak mau cerita ke aku?” tanyanya lagi.
            Aku menarik nafas berat. Menatap Ryan lekat-lekat. Wajah polosnya itu membuatku tak tega untuk menuntut lebih dari apa yang Ryan berikan kepadaku selama ini. Bahkan, dari sinar matanya aku mampu melihat ketulusannya yang tak pernah orang lain pancarkan.
            Apa aku salah, jika aku ingin pacaran seperti yang lainnya? Batinku menjerit di ambang dilema. Antara kejujuran atau aku harus menahan egoku.
            Aku menunduk. Air mataku menetes.
            “Kok malah nangis sih, Vi?” tanya Ryan yang mendekat ke arahku. Tangannya yang lembut mengusap pipiku yang basah karena air mata.
            Tangisku semakin terisak. Ryan lalu menarik tubuhku ke dalam pelukannya.“Diam dong Sayang, jangan nagis. Ntar diketawain bintang-bintang loh,” hibur Ryan padaku. Nada bicaranya terdengar lembut dan menyejukkan hati.
            Aku menyandarkan kepalaku di dadanya. Menikmati pelukan Ryan yang cukup menghangatkan. Sementara egoku masih tetap bergejolak dalam hatiku. Anganku menerawang ke Clara yang tengah nonton dengan Edo. Pasti sehabis nonton, Edo akan mengajaknya dinner atau siap membelikan barang-barang mewah yang tak pernah Ryan berikan padaku.
            “Sayang, ada bintang jatuh tuh. Cepet make a wish,” ucap Ryan sembari menunjuk ke langit dan membuyarkan lamunanku tentang Clara dan Edo.
            Aku menutup mataku. Menginginkan kalau Ryan mau berubah seperti cowok-cowok yang lainnya. Setidaknya mau menyisihkan sedikit uangnya untuk modal pacaran kami agar tak monoton seperti ini. Hmm, malam minggu selalu dihabiskan di pelataran rumahku sembari melihat bintang, benar-benar membosankan.
            “Sayang, semoga kita berjodoh, ya? Aku nggak mau kehilangan kamu, aku pengen kamu nanti jadi isteri aku,” ucap Ryan yang membuatku tersentak. Seserius itukah dia padaku?
            Aku hanya tersenyum.
            Dalam hatiku rasanya ingn menolak ucapan Ryan. Membayangkan bagaimana menata kehidupan bersama cowok perhitungan seperti Ryan. Bisa-bisa sebulan diajak puasa. Ah, tidak! Aku dan Ryan masih terlalu dini untuk berpikir ke arah itu.
*****
            Aku mendekat ke arah Clara yang tengah mengaduk makanannya. Wajahnya terlihat murung dan kelam. Aku tak lagi melihat wajah sumringah yang biasa terpancar dari Clara.
            “Lo kenapa, Ra? Ada masalah?” berondongku ingin tahu.
            Clara hanya terdiam. Dia masih mengaduk makanan yang sudah dipesannya oleh Mbok Min—ibu kantin. Hingga beberapa menit kemudian, Clara masih terdiam, namun dia segera memelukku ditemani airmata yang tumpah dari pelupuk matanya. Aku semakin bingung dibuatnya.  What happen? Pekikku dalam hati.
            Untuk beberapa saat, aku membiarkan Clara berteduh dalam pelukanku. Aku memang belum tahu dengan apa yang tengah menimpa Clara, tapi aku tahu kalau Clara sangat terpukul.
            Perlahan Clara melepaskan pelukannya. Dia lalu mengusap airmata yang tengah membasahi wajahnya. Dan Clara mulai sedikit tenang.
            “Clara, ada apa? Cerita dong,” bujukku penuh rasa penasaran.
            Clara hanya terdiam. Sepertinya dia butuh waktu untuk mengungkapkan apa yang tengah menimpanya. Sebagai sahabat, aku cukup sabar menanti Clara membagi cerintanya.
            “Gue putus ma Edo,” ucap Clara singkat. Bagai petir di siang bolong, aku tak percaya dengan apa yang diucapkan Clara. Mungkin ini semua haya lelucon belaka yang sengaja Clara ciptakan.
            “Hahahahhahah,” tawaku penuh rasa tak percaya.
            “Braakkkk!!” Clara mengertak meja dan membuatku menghentikan tawaku. Hingga beberapa pasang mata sempat melirik ke arahku dan Clara. “Gue serius, Vi!” ucap Clara setengah membentak.
            Beberapa detik kami dalam keheningan. Aku merasa bersalah karena telah menertawakan Clara.
            “Edo itu ternyata playboy. Dia pikir, dengan uang semua akan mampu dia dapatkan,” ucap Clara tiba-tiba. Aku hanya mendengarkannya saja, aku diam. “Yang lebih menyakitkan, dia bukan hanya berfikir kalau dia mampu membeli cinta, tapi...” Clara kembali tertahan. “Harga diri gue.”
            Aku melirik wajah kelam Clara yang begitu pilu. Aku tahu bagaimana besar cinta Clara ke Edo. Namun aku juga tahu dengan apa yang Clara rasakan saat ini, mungkin lebih dari kecewa.
            “Dan yang ngebuat gue lebih nggak percaya, habis nonton dia malah ngajak gue happy-happy ke hotel. Ah,” sambung Clara penuh getir.
            Aku hanya diam mendengarkannya, aku tak mau banyak bertanya, karena mungkin  pertanyaanku hanya akan semakin menyiksa perasaan Clara. Tapi dari cerita Clara, setidaknya aku tahu, cowok kaya itu banyak nggak setianya. Dan aku, aku merasa bersalah karena pernah membandingkan Ryan dengan Edo, padahal Ryan jauh lebih menghargai wanita daripada Edo.
*****
Dan sore itu, Ryan mengajakku untuk makan di luar. Sesuatu yang jauh banget dari kebiasaan. Mungkin, selama kami pacaran, ini adalah kencan pertama kami. Ah, aku yang terlihat lebay..hehe
“Vi,” panggil Ryan lirih.
“Iya,” jawabku sembari meliriknya.
Ryan hanya diam saja, dia lalu mengambil sesuatu dari saku celananya. Ada kotak kecil yang dibukanya. Lalu menarik jemariku dan menyematkan sebuah cincin berlian di jari manisku.
            “Vi, maafin aku selama ini kalau aku nggak bisa jadi pacar yang baik buat kamu. Tapi aku janji, Vi, aku akan berusaha jadi suami yang baik buat kamu,” ucap Ryan yang menatap lekatku.

            Aku tak lagi mampu berkata apa-apa. Mungkin hanya air suci yang terjatuh dari sudut mataku yang mampu menjawab kejutan kecil ini. J

BERBICARA MELALUI PENA

BERBICARA MELALUI PENA

By : Witri Prasetyo Aji

Namaku Syaini Margaretha. Aku seorang penyanyi, tapi itu dulu. Sebelum suaraku melayang karena tragedi kecelakaan yang juga menewaskan kedua orang tuaku. Kecelakaan beruntun yang terjadi lantaran sopir bus mengantuk dan menabrak mobil yang kami tumpangi.

Empat tahun yang lalu, aku masih bisa bernyanyi dengan nada yang tinggi. Masih bisa bercerita panjang lebar kepada sahabat-sahabatku tentang apa yang aku alami. Tapi sekarang? Semua hanyalah seutas kenangan yang rasanya mustahil akan kembali.

Aku bisu.

Aku tak lagi bisa bercerita, apalagi bernyanyi dengan nada-nada merdu. Padahal, apa kalian tahu? Ibadahku adalah dengan bernyanyi. Bernyanyi untuk Tuhan Yesus. Tapi aku bisu. Bagaimana aku bisa bernyanyi? Bagaimana aku bisa beribadah?


Ah, aku bosan dengan keadaan ini. Aku yang tidak hanya bisu, melainkan juga yatim piatu. Aku yang bukan hanya kehilangan suara saja, melainkan kehilangan kedua orang tuaku.


Tak terasa bulir-bulir bening itu menetes, membasuh kedua pipiku yang mulai tirus  karena aku semakin kurus.


Ya, aku menangis bukan karena kehilangan suaraku, bukan karena aku tidak bisa bernyanyi. Tapi lebih tepatnya, karena aku kehilangan orang tuaku.

Aku masih butuh mereka! Kakakku, tidak cukup untukku. Suatu saat nanti, dia pasti akan menikah dan meninggalkan aku seorang diri. Lantas, bagaimana dengan aku? Bagaimana dengan nasibku? Siapa yang sudi merawatku? Dan siapa pula yang sudi dengan gadis bisu sepertiku?            Ah, air mataku semakin membuncah. Aku tak sanggup memikul perih ini seorang diri. Rasanya, aku ingin sekali mengungkapkan rasa ini pada mereka semua, tapi dengan bagaimana? Berbicara saja aku tak mampu, apalagi bercerita.


Dan tiba-tiba, terdengar ganggang pintu kamarku dibuka. Aku sesegera mungkin mengusap air mataku yang menetes. Aku tak mau ada yang tahu kalau aku tengah menangis. Aku tak mau terlihat lemah di depan mereka. Aku ini Sya, gadis yang kuat dan selalu periang. Aku tak pernah merasa sedih apalagi menangis.


“Sya,” panggilnya. Aku hafal betul dengan suara itu. Itu adalah suara milik Reno, kakakku sekaligus satu-satunya orang yang kumiliki di dunia ini. Sekaligus, aku cintai.


Mungkin terkesan gila. Aku mencintai kakak kandungku sendiri. Tapi apa boleh dikata, itu keyataannya. Dan aku tak tahu sejak kapan. Karena setelah kecelakaan itu, hanya Reno dan Reno yang selalu kulihat. Hanya dia yang menyayangiku, merawatku dan sekaligus memberikan motivasi agar aku tak takut dengan kedaan ini. Agar aku tak lagi trauma naik mobil, dan agar aku tidak minder dengan keadaanku yang cacat ini.


Aku menoleh. Aku hanya mengangkat wajahku.


“Ayo ke gereja!” ajaknya.


Gereja?


Ya, sekuat-kuatnya aku, tapi aku akan selalu menolak bila di ajak ke gereja. Dan sudah hampir 4 tahun aku tak menginjak yang namanya gereja. Bukan karena aku lupa pada Yesus, melainkan keadaan yang memaksaku seperti ini.

Aku menunduk.   
        
“Kenapa?” tanya Reno yang telah jongkok di hadapanku. Membuat darahku mengalir deras. Apalagi tatapannya yang tajam itu, membuatku semakin gugup saja.


Aku menggeleng.


“Sampai kapan kau akan begini, Sya?” tanyanya seolah frustasi.


Sampai aku bisa bernyanyi, jawabku dalam batin.

Reno lalu memelukku erat. “Kumohon Sya, kamu jangan seperti ini. Kamu butuh Yesus, Sya. Jangan tinggalkan Dia,” ucap Reno di tengah isak tangisnya.

Ah, aku tak pernah melupakan Yesus. Tapi, tapi aku belum siap dengan keadaan ini. Itu saja. Dan aku hanya butuh waktu.

***
Aku merasa kesepian. Selalu di kamar dan ditinggal bekerja oleh Kak Reno. Aku butuh teman untuk bicara.


Aku melihat sebuah buku tergeletak di meja samping ranjangku. Aku meraihnya. Dan jemariku, dengan indah menari di atasnya.

Dear Yesus,
Tuhanku, Kau Maha Tahu
Sebagaimana tahu apa yang tidak pernah mereka tahu
Dan Kau pun tahu, aku sama sekali tak pernah melupakanmu
Dan mungkin hampir sama, seperti aku yang tak pernah
Melupakannya
Sya

Ah, jemariku pun tiba-tiba terhenti. Dalam otakku, banyak sekali yang ingin aku ungkapkan. Tapi jemariku, masih enggan untuk menulis. Justeru mulutku sibuk berkomat-kamit tanpa suara.

  
Keadaan ini benar-benar menyiksaku, aku sudah tidak tahan. Aku ingin berbicara, aku ingin bercerita. Tapi kenapa terasa sulit sekali? Kenapa?


Aku ingin berteriak atas kekesalan ini, kenapa tidak bisa?


Emosiku melouap. Aku melempar bukuku dan bolpoinnya. Dan aku, kembali menangis. Kesal dan juga bingung. Kenapa aku seperti ini? Kenapa diusiaku yang tergolong muda, aku harus cacat?

***
Entah karena capek, atau entah karena mengantuk. Mataku terpejam. Dan aku merasa berada di suatu tempat yang indah. Tempat yang dipenuhi dengan bunga-bunga. Udaranya begitu sejuk. Namun, sepi.


Aku terus memutar tubuh mengamati sekelilingku. Sama sekali tak ada seorangpun berada. Dan aku, menanti. Entah apa yang aku nanti, aku tak tahu.

Hingga akumelihat Mama dan Papa berjalan ke arahku. Mereka mengenakan baju putih-putih. 

“Mama? Papa?” teriakku dan berlari ke arah mereka yang juga tengah menuju ke arahku.

Mereka hanya tersenyum tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Ketika kami saling mendekat, kami berpelukan.

Rasanya, rinduku tengah terobati.

Kami bercengkerama untuk beberapa saat. Hingga waktunya telah habis dan Mama dan Papa meninggalkanku seorang diri. Tapi, sebelum mereka pergi, mereka memberikan sebuah buku kepadaku.

“Apa ini?” tanyaku tak mengerti.

Tapi mereka sama sekali tak menjawabnya adan hanya tersenyum. Lalu meninggalkanku seorang diri.

Sementara aku, aku masih diliputi kebingungan yang tak menentu.

Apa arti semua ini?

***

Ketika aku terbangun dari mimpiku, Reno sudah ada di dekatku. Rupanya dia sudah pulang dari kantornya.

Aku membelalakkan mata. Menatapya setengah melotot. Namun Reno hanya tersenyum menatapku. 

“Kau sudah bangun?” tanyanya.

Aku mengangguk pelan.

“Aku punya sesuatu untukmu!” katanya.

“Apa?” tayaku dengan bahasa isyarat.

Lalu, Reno memperlihatkan sebuah novel untukku. “Aku tahu, selama aku bekerja, kau pasti kesepian. Ku harap, novel ini bisa menjadi pengobat kebosananmu ketika aku bekerja,” ucapnya lalu memberikan novel itu kepadaku.

Aku menerimanya. Melihat-lihat sampulnya, lalu membukanya lembar demi lembar. Dan sepertinya, ceritanya menarik.

“Terima kasih ya, Kak,” kataku dengan bahasa isyarat.

Dan semenjak saat itu, aku menjadi seorang yag hobi membaca. Setiap kali Kak Reno mau berangkat bekerja, dan dia bertanya padaku : “Kamu mau oleh-oleh apa?”

Aku hanya memperlihatkan sebuah novel. Dengan begtu, dia bisa langsung tanggap kalau aku menginginkan sebuah novel baru. Dan setelahnya dia pulang kantor, pasti sudah siap dengan novel baru untukku.

Bahkan, tak jarang kalau Kak Reno bertanya padaku tentang novel yang baru aku baca. Aku hanya bercerita dengan bahasa isyarat. Atau, kadang merangkumkan cerita-cerita itu di atas kertas.

“Sya, kenapa kamu tak menulis saja?” tanya Kak Reno tiba-tiba.

Menulis? Aku terkejut mendengar pertanyaan itu.

“Apa yang harus aku tulis?”

“Apa yang ada di pikiran kamu!”

Aku terdiam. Menulis apa yang ada di pikiranku.

***

Keesokan harinya, Kak Reno pulang dengan membawa sebuah leptop untukku.

“Untuk apa itu? Mana novel untukku?”

Kak Reno hanya tersenyum. “Udah bukan lagi zamannya baca novel, tapi zamannya kamu yang nulis novel,” ucap Kak Reno kepadaku.

“Tapi aku enggak bisa!”

“Coba dulu baru alesan,” ucapnya. “Oh ya, Kakak pesen satu novel yaa, Sya,” tambahnya lalu nyelonong pergi.

Ah, Kak Reno. Selalu saja punya cara agar aku tidak bosan, agar aku punya kegiatan.

Aku jadi teringat dulu, Kak Reno yang selalu memuji-muji suaraku. Awalnya aku yang hanya penyayanyi gereja, akhirnya bisa menjadi penyanyi dalam pesta-pesta.

Dan demi Kak Reno, aku belajar menulis. Belajar bercerita melalui pena. Jika dulu aku bisa bercerita melalui lisan, kenapa sekarang aku tak bisa bercerita melalui pena.

Dan jika mereka semua bertanya tentang apa yang aku ceritakan, aku akan menjawabnya tentang diriku. Tengtang gadis bisu yang yatim piatu, hidup bersama kakaknya dan jatuh cinta pada kakaknya sendiri. Gadis bisu itu hanya bisa memendam perasaannya, karena dia menyadari kalau perasaannya adalah sesuatu yang salah dan terlarang.



***
Beberapa bulan berlalu.....

Aku sudah bisa menulis. Dan orang yang pertama membaca tulisanku adalah Kakakku sendiri, salah satu tokoh dalam novel yang aku buat.

“Sya, imajinasimu bagus bener?” pujiya.


Aku hanya tersenyum. Dia menganggap itu semua hanyalah imajinasi? Apakah dia tak sadar, kalau apa yang dia baca adalah cerminan dari dirinya sendiri dan diriku???