Hana Maulida dan Gerakan #KakakAman: Mengajarkan Pendidikan Seksual Sejak Dini

 Hana Maulida dan Gerakan #KakakAman: Mengajarkan Pendidikan Seksual Sejak Dini

 

Sering nggak sih writers mendengar berita tentang kekerasan seksual pada anak? Bukan hanya di lingkungan sekolah yang terjadi di antara guru dan siswanya, ataupun antar siswa. Tapi, kekerasan sesksual juga terjadi di lingkungan keluarga. Ada seorang kakek yang bertindak asusila terhadap cucunya, adapula seorang ayah yang tega menggauli putrinya. Bahkan, ada kasus serupa yang terjadi tidak jauh dari tempat aku tinggal.

Kadang aku berfikir, apakah dunia memang tidak ramah pada anak? Orang-orang yang seharusnya melindungi justeru menjadi pelaku. Lantas, di mana lagi tempat yang aman untuk anak-anak kita?

Dan di tengah meningkatnya kasus kekerasan seksual terhadap anak di Indonesia, masih banyak orang tua yang merasa tabu membicarakan soal pendidikan seksual. Padahal, mengenalkan anak pada bagian tubuhnya sendiri dan mengajarkan batasan diri adalah langkah penting untuk melindungi mereka dari ancaman kejahatan seksual. Setidaknya, ada tahu bagian tubuh mana yang boleh dipegang orang lain dan yang tidak.

 


Berkenalan dengan #KakakAman dan Hana Maulida 

#KakakAman Adalah gerakan sosial yang berfokus pada pencegahan kekerasan seksual pada anak melalui pendidikan seksual yang interaktif dan menyenangkan, dan kini telah berkembang menjadi Yayasan Kakak Aman Indonesia.

#KakakAman ini berfokus pada upaya pencegahan kekerasan seksual anak melalui Pendidikan Seksual yang interaktif dan menyenangkan. Berbasis di Kota Serang, Banten, Kakak Aman Indonesia bertekad untuk terus menyebarluaskan Pendidikan Seksual ke seluruh penjuru Banten dan Indonesia.

#KakakAman hadir berawal dari keresahan seorang ibu—Hana Maulida—yang pagi itu terpaku menatap dan mendengar berita tentang kekeransan seksual terhadap anak yang dilakukan oleh orang terdekatnya. Ada sedih an marah yang bercampur menjadi satu. Lalu, Hana Maulida mencoba menghubungi kedua temannya untuk bertemu, dan salah satu temannya adalah guru SD.

Bersama kedua temannya tersebut, Hana ngobrol tentang kekerasaan eksual yag terjadi pada anak. apa dampaknya? dan mengapa hal tersebut semakin marak terjadi. dan dari obrolan tersebut, memulai Langkah kecil yang dimulai dri mengunjungi sekolah teman teman Hana mengajar. Dan fakta mengejutkan, rata-rata siswa SD--laki ataupun perempuan--pernah menonton video porno, bahkan ada anak yang iseng enggambar alat kelamin. 

Dan dari pertemuan tersebut, Hana akhirnya mengunggah tentang kunjungan tersebut di media sosial. Banyak tanggapan positif. Lalu, dari hal tersebut, Hana berinisiatif membuat Gerakan Kakak Aman.

Tidak hanya sampai di situ, Hana juga mengunjungi para ahli psikolog anak, dokter anak, pemerhati anak dan stakeholder. Hana berkonsultasi terkait pembelajaran yang baik dan cocok untuk anak. Modul itu disusun secara menarik dan kreatif agar anak mudah memahaminya. Modul tersebut berbentuk seperti dongeng, cerita bergambar, dan yang laiinya.

Menariknya, modul Gerakan Kakak Aman ini gratis dan tidak eksklusif. Siapa saja bisa mempelajarinya dan mengajarkannya pada anak-anak.

 


Pendidikan Seksual Usia Dini bukanlah hal yang tabu

“Banyak orang tua yang masih menganggap pendidikan seksual sebagai hal tabu. Padahal, ini bukan tentang hal yang vulgar, tapi tentang mengajarkan anak mengenali tubuhnya, mengenal batas, dan tahu kapan harus berkata tidak,” ujar Hana dalam wawancaranya setelah menerima penghargaan.

Lewat #KakakAman, Hana ingin menghapus anggapan bahwa pendidikan seksual hanya bisa diajarkan saat anak sudah besar. Justru sebaliknya, sejak dini anak harus memahami mana bagian tubuh yang boleh disentuh orang lain, dan mana yang tidak. Ia menggunakan istilah yang ramah anak seperti “bagian tubuh pribadi” dan “zona aman”, agar pesan mudah diterima tanpa menimbulkan rasa takut atau malu.

Kegiatan #KakakAman sering diadakan di sekolah, taman baca, dan komunitas anak. Di sana, Hana dan timnya menggunakan media boneka, gambar, lagu, serta permainan interaktif. Anak-anak diajak mengenal tubuh mereka melalui cerita ringan—misalnya kisah boneka bernama “Aman” yang belajar menjaga diri dari sentuhan yang tidak pantas.

 

Belajar dengan Cara yang Menyenangkan

Salah satu keunikan #KakakAman adalah pendekatannya yang menyenangkan. Anak-anak tidak diajarkan dengan ceramah yang kaku, melainkan diajak bermain sambil belajar.

Misalnya, dalam kegiatan “Bagian Tubuh Aman”, anak-anak diberikan gambar tubuh manusia dan diminta menempelkan stiker hijau untuk bagian yang boleh disentuh (seperti tangan atau kepala saat salaman) dan stiker merah untuk bagian pribadi yang tidak boleh disentuh tanpa izin.

Dalam sesi lain, mereka diajak mendengarkan lagu bertema “Tubuhku Milikku”, yang liriknya sederhana namun sarat makna. Lagu ini mengajarkan anak untuk berani berkata “tidak” jika merasa tidak nyaman, dan segera bercerita kepada orang dewasa yang mereka percaya.

Menurut Hana, metode seperti ini terbukti efektif. Anak-anak lebih cepat memahami, sementara guru dan orang tua juga lebih mudah membuka percakapan yang selama ini dianggap sensitif.

“Tujuan kami bukan membuat anak takut, tapi membuat mereka sadar bahwa tubuh mereka berharga dan berhak dijaga,” kata Hana.

 


Dari Ruang Kecil Menuju Pengakuan Nasional

Perjalanan Hana tidak selalu mudah. Di awal, banyak pihak yang meragukan relevansi gerakan ini. Ada yang menilai terlalu “dewasa” untuk anak-anak, ada pula yang khawatir anak menjadi penasaran dengan hal-hal yang tidak semestinya. Namun Hana tidak menyerah. Ia terus melakukan pendekatan, menjelaskan bahwa pendidikan seksual bukan mengajarkan seksualitas, tetapi mengajarkan keamanan, batasan, dan kepercayaan diri.

Melalui kerja kerasnya, #KakakAman mulai dikenal luas. Gerakan ini kemudian diliput oleh berbagai media lokal hingga nasional. Keberhasilannya dalam mengangkat isu ini dengan pendekatan positif membuat tulisannya mendapat perhatian khusus dari dewan juri Anugerah Pewarta Astra — ajang bergengsi yang memberikan apresiasi bagi pewarta yang menghasilkan karya inspiratif seputar kontribusi sosial masyarakat.

Tulisan Hana dinilai kuat secara narasi, relevan secara sosial, dan membawa pesan perubahan yang nyata. Dalam karyanya, ia tidak hanya menulis tentang program, tetapi juga menghadirkan kisah nyata anak-anak dan guru yang berubah cara pandangnya setelah mengenal #KakakAman.

 

Momen Kemenangan dan Maknanya

Ketika namanya diumumkan sebagai salah satu pemenang Anugerah Pewarta Astra, Hana tak kuasa menahan haru. Ia mengaku kemenangan ini bukan miliknya sendiri, melainkan milik semua relawan, guru, orang tua, dan anak-anak yang berani berbicara tentang keamanan diri.

“Anugerah ini adalah bentuk pengakuan bahwa isu pendidikan seksual anak itu penting dan harus terus disuarakan,” ujar Hana dengan penuh rasa syukur.

Penghargaan tersebut menjadi titik balik yang memperluas dampak #KakakAman. Kini, banyak sekolah dan komunitas mulai mengundang Hana untuk berbagi metode edukasi. Bahkan beberapa daerah telah mengadopsi konsep serupa untuk kegiatan perlindungan anak.

 

Menginspirasi Lebih Banyak Perubahan

Kisah Hana Maulida menjadi bukti nyata bahwa perubahan sosial bisa dimulai dari satu tulisan dan satu kepedulian. Ia berhasil menjembatani hal yang selama ini dianggap tabu menjadi percakapan yang sehat dan terbuka.

Gerakan #KakakAman juga menginspirasi banyak jurnalis muda untuk berani menulis tentang isu sosial yang bermanfaat bagi masyarakat. Hana membuktikan bahwa jurnalisme bukan sekadar menyampaikan fakta, tetapi juga menghadirkan empati dan solusi.

“Menulis itu tentang keberanian untuk peduli. Kalau kita bisa membuat satu anak merasa lebih aman, itu sudah cukup berarti,” ucap Hana dalam salah satu sesi diskusinya.

 

Pesan dan Harapan ke Depan

Melalui gerakan #KakakAman, Hana berharap semakin banyak orang tua dan guru berani membicarakan pendidikan seksual secara terbuka, tanpa rasa malu atau canggung. Ia juga mendorong pemerintah dan lembaga pendidikan untuk memasukkan topik ini dalam kurikulum secara adaptif dan kontekstual.

Menurutnya, anak-anak berhak mendapatkan informasi yang benar tentang tubuh dan keselamatan diri mereka. Sebab, perlindungan terbaik bukan hanya dari pengawasan orang tua, tetapi juga dari kesadaran diri anak itu sendiri.

“Selama masih ada anak yang takut berbicara tentang tubuhnya, perjuangan ini belum selesai,” tutup Hana.

 


Penutup

Kemenangan Hana Maulida dalam Anugerah Pewarta Astra bukan sekadar penghargaan atas karya tulis yang inspiratif, melainkan pengakuan atas perjuangan nyata untuk masa depan anak-anak Indonesia. Melalui Gerakan #KakakAman, ia mengajarkan bahwa pendidikan seksual sejak dini bukanlah hal yang menakutkan, tetapi langkah penting agar setiap anak tumbuh dengan rasa aman, percaya diri, dan tahu cara melindungi dirinya.

Gerakan kecil yang dimulai dari satu hati peduli kini menjelma menjadi gerakan besar yang menebar keberanian dan kesadaran di banyak tempat. Dan di tengah semua itu, nama Hana Maulida akan selalu dikenang sebagai sosok yang mengubah tabu menjadi ilmu, dan rasa takut menjadi kekuatan.

0 komentar:

Posting Komentar